Diseminasi Program: Membangun Ekonomi Biru untuk Memberdayakan Petani Rumput Laut Di Pulau Osi

Program Membangun Ekonomi Biru untuk Memberdayakan Petani Rumput Laut Pulau Osi telah penghujung pelaksanaannya setelah kurang lebih sepuluh bulan berjalan. Selama periode tersebut, petani rumput laut Pulau Osi bersama Kopernik dan Yasi.ID bahu-membahu menghadapi berbagai tantangan dalam budidaya rumput laut yang semakin kompleks akibat dampak perubahan iklim. 

Sebagai upaya memastikan masyarakat dan para pemangku kepentingan memahami proses, capaian, serta tantangan program, Kopernik dan Yasi.ID menyelenggarakan kegiatan Diseminasi Program yang dilaksanakan di Pulau Osi pada 5 November 2025 dan  di Kota Ambon pada tanggal 7 November 2025. Kegiatan ini melibatkan Petani Rumput Laut, kelompok perempuan dan pemuda, mitra LSM, pemerintah desa, serta perwakilan pemerintah daerah tingkat kabupaten dan provinsi.

Diseminasi di Pulau Osi

Kegiatan di Pulau Osi dibuka dengan sambutan Kepala Dusun Pulau Osi, Yusuf Siolimbona. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi kepada Kopernik dan Yasi.ID atas kontribusinya dalam menghidupkan kembali budidaya rumput laut sebagai komoditas unggulan Pulau Osi yang sempat mengalami kevakuman. 

Saya memberikan apresiasi yang positif kepada Kopernik dan Yasi.ID. Upaya-upaya dalam budidaya rumput laut di Pulau Osi kini mulai terlihat titik terangnya. Harapan kami, pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten, dapat bersama-sama mendorong intervensi program lanjutan di tahun 2026 agar program ini berkelanjutan dan berkesinambungan,” ujar harapannya.

Diseminasi di Kota Ambon

Sementara itu, diseminasi di Kota Ambon dilaksanakan di Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Maluku. Acara dibuka oleh Kepala DKP Provinsi Maluku,  Dr. Ir. Erawan Asikin, M.Si., yang menekankan pentingnya pendekatan GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion) serta kolaborasi lintas pihak dalam pembangunan sektor kelautan dan perikanan.

Pelibatan perempuan dan pemuda harus menjadi bagian dari pendekatan pembangunan. GEDSI bukan sekedar konsep, tetapi harus diaplikasikan, Kopernik dan Yasi.ID sudah mulai menerapkan hal Ini dan menjadi pembelajaran  penting bagi kita semua. Kami terbuka untuk berkolaborasi kedepan, termasuk perluasan lokasi ke wilayah lain,” tegasnya. 

Paparan Hasil Program

Setelah sambutan, pemaparan hasil program disampaikan oleh tim Kopernik, Fahrian Yovantra dan Raisya Indrani. Fahrian memaparkan hasil eksperimen kebun bibit dan rumah pengering rumput laut. ia menjelaskan berbagai tantangan budidaya, seperti serangan hama, predator, serta kendala pengeringan akibat cuaca yang tidak menentu. Meski demikian, tantangan tersebut  membuka peluang peningkatan melalui penerapan kebun bibit dan rumah pengering berbasis IoT (Internet of Things). 

Pendekatan ini dirancang secara partisipatif melalui proses co-design bersama masyarakat Pulau Osi dan diwujudkan melalui eksperimen kolaboratif untuk meningkatkan kualitas, produktivitas, dan keberlanjutan budidaya rumput laut.

Raisya menambahkan bahwa program juga mencakup pelatihan penambahan nilai produk rumput laut  melalui pengolahan food grade dan praktik pembuatan berbagai produk olahan. Selain itu, dilakukan pelatihan pengelolaan sampah pesisir yang dilanjutkan dengan aksi selama satu bulan mengolah sampah plastik dan minyak jelantah menjadi produk bernilai guna. Kegiatan ini terutama melibatkan kelompok perempuan dan pemuda.

Pembelajaran dari Penerima Manfaat

Dalam sesi berbagi pembelajaran,  perwakilan petani rumput laut Pulau Osi, Pak Dudi, menceritakan kondisi kolaps produksi rumput laut yang terjadi sejak 2024 serta manfaat dari eksperimen kebun bibit dan rumah pengering. “Beberapa tahun lalu, rumput laut di Pulau Osi dari 2021 sampai 2023 itu lumayan bagus masa produksinya. Tapi sekitar masuk di tahun 2024 itu kita mengalami kegagalan secara keseluruhan, khususnya Pulau Osi dan Teluk Kotania. Dan sekarang ini, setelah kolaborasi dengan Yasi.ID dan Kopernik, kami mencoba kebun bibit dan rumah pengering, Alhamdulillah, bibit bisa dipertahankan dari musim timur ke musim barat,” ungkapannya.

Winda, perwakilan pemuda Pulau Osi dan koordinator pengelolaan sampah, juga berbagi pengalaman terkait pengolahan sampah menjadi produk bernilai ekonomi. “Ibu-ibu, pemuda, dan anak-anak sekolah kini sudah bisa mengolah sampah menjadi produk yang bahkan sudah dipasarkan di Ambon.” ujarnya.

Sementara itu, Ibu Jahri Jani selaku ketua kelompok olahan produk rumput laut menyampaikan bahwa kelompok perempuan di Pulau Osi kini telah memproduksi berbagai produk olahan seperti selai, kerupuk, sirup, dan sabun rumput laut yang mulai dipasarkan, baik di dalam maupun diluar Pulau Osi. 

Keberlanjutan Program

Para peserta diseminasi mengapresiasi inisiatif Kopernik dan Yasi.ID, khususnya dalam penguatan budidaya dan pengembangan kebun bibit berbasis keramba yang dinilai prospektif meski masih menghadapi tantangan teknis. Selain aspek budidaya, pengolahan hasil perikanan dinilai menjadi pintu masuk penting melalui pengurusan legalitas usaha, sertifikasi produk, termasuk sertifikasi halal, hingga peluang masuk ke pasar ritel modern. 

Program ini dinilai sejalan dengan arah pembangunan ekonomi biru dan penguatan ekonomi daerah. Namun, keberlanjutan menjadi kunci utama. Melalui pendampingan jangka panjang, sinergi lintas sektor, serta penguatan branding Pulau Osi sebagai wilayah binaan DKP, Kopernik, dan Yasi.ID. 

Sebagai penutup, diseminasi ini menegaskan bahwa tantangan utama pengembangan rumput laut di Maluku masih terletak pada pola produksi yang berfokus pada penjualan bahan mentah tanpa nilai tambah. Oleh karena itu, pengembangan produk olahan berbasis rumput laut menjadi langkah strategis agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara lebih optimal dan berkelanjutan oleh  masyarakat Pulau Osi.

Bagikan halaman ini:
Facebook
Twitter
LinkedIn
Tentang penulis:
yasi
yasi

Artikel terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *