Masalah Sampah di Wilayah Pulau Osi
Di balik keindahan alamnya yang mempesona, Pulau Osi menghadapi tantangan yang sangat kompleks dalam pengelolaan sampah. Masalah sampah ini berdampak pada penghidupan masyarakat dan keberlanjutan ekosistem laut, terutama di tengah upaya pengembangan budidaya rumput laut. Umumnya tantangan mengelola sampah di pulau kecil adalah tidak tersedianya infrastruktur dasar seperti tempat penampungan sampah yang terjangkau, hal ini dikarenakan keterbatasan lahan untuk membangun infrastruktur tersebut, ditambah lagi sistem tata kelola sampah yang belum memadai.
Tidak hanya masalah pembuangan sampah yang dihasilkan dari warga, pencemaran sampah yang sulit dikontrol juga adalah sampah kiriman dari arus laut, sehingga beban pengelolaan tidak hanya untuk sampah domestik tetapi juga yang datang dari luar.
Untuk mendukung aktivitas budidaya rumput laut di perairan Pulau Osi agar terjaga dari sampah, kami berkolaborasi dengan Beta Bank Sampah Ambon untuk menyelenggarakan pelatihan Pengelolaan Sampah di Pulau Osi. Pelatihan ini adalah langkah awal untuk meminimalisir pembuangan sampah ke laut. Pelatihan ini melibatkan kelompok anak muda dan kelompok ibu-ibu. Melalui pelatihan ini peserta diajak untuk memperkuat kesadaran akan bahaya sampah yang terbuang ke laut, belajar mengolah sampah menjadi barang yang bisa digunakan kembali. Dari kegiatan ini, kami berhasil mengumpulkan dan mengolah 130 kg sampah plastik. Kegiatan pengelolaan sampah di Pulau Osi terdiri dari dua sesi sebagai berikut:
Sosialisasi Bahaya Sampah Plastik
Kegiatan pelatihan ini merupakan inisiasi yang berhasil menarik partisipasi aktif dari kelompok pemuda dan ibu-ibu yang memiliki minat tinggi terhadap isu pengelolaan sampah. Kami saling berbagi pengalaman sehari-hari sebagai masyarakat pesisir mengenai tantangan pengelolaan sampah di pulau kecil, dan juga membicarakan ancaman lain seperti mikroplastik, polutan yang membahayakan ekosistem laut dan manusia.
Selain itu, para peserta juga dibekali pengetahuan komprehensif mengenai klasifikasi umum sampah, mencakup kategori sampah organik dan sampah anorganik. Edukasi yang tak kalah penting ditekankan pada kategori Sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun), khususnya sampah residu. Sampah B3 ini mencakup barang-barang seperti popok bayi, pembalut, dan baterai, yang secara tegas diklasifikasikan sebagai sampah berbahaya yang tidak dapat didaur ulang. Pemahaman kategori sampah B3 ini sangat penting dalam upaya mengedukasi masyarakat mengenai penanganan limbah yang aman dan bertanggung jawab.
Sebelum pelatihan dimulai, peserta mengumpulkan sampah di sekitar kampung. Sampah yang terkumpul disortir berdasarkan jenisnya seperti plastik kemasan multilayer, botol plastik, kardus, hingga kantong kresek. Setelah disortir selanjutnya sampah plastik dicuci kemudian dikeringkan dengan cara dijemur di ruang terbuka.
Sampah-sampah yang telah melalui proses pengeringan selanjutnya didaur ulang menjadi aneka produk, diantaranya minyak jelantah yang telah dibersihkan dibuat menjadi sabun yang dicampur dengan esensial alami dari perasan dari kulit jeruk, daun kelor, juga serai yang telah dicincang halus agar memiliki aroma alami yang khas. Plastik kemasan digunting hingga potongan-potongan kecil yang dibungkus menjadi sebuah bantal yang disebut eco-pillow yang begitu warna–warni. Adapun juga plastik kemasan yang dijahit menjadi sandal, dan kantong kresek yang didaur kembali menjadi tote bag atau tas jinjing yang menarik.
Kegiatan Edukasi Brand Audit
Bagi kelompok pemuda, fokus kegiatan edukasi diarahkan pada pelaksanaan Audit Merek (Brand Audit). Aktivitas ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai dominasi merek atau produsen tertentu yang kemasan plastiknya paling banyak ditemukan dan berkontribusi signifikan terhadap timbunan sampah di lingkungan sekitar.
Kegiatan brand audit ini dirancang untuk dilakukan secara langsung di lapangan, bertempat di ruang terbuka yang strategis. Lokasi yang dipilih adalah di sekitar tempat pembuangan sampah sementara yang letaknya berdekatan dengan area pesisir pantai. Pemilihan lokasi ini sangat relevan untuk mengedukasi peserta mengenai hubungan langsung antara sampah darat dan polusi laut.
Respon
Kegiatan ini memberi semangat inisiasi terutama untuk kelompok ibu-ibu yang kesadarannya terlihat ketika mereka masih melanjutkan pengumpulan sampah rumah tangga, baik di rumah mereka, maupun di sekitarnya. Dengan memanfaatkan sampah-sampah yang terbuang percuma, pelaksanaan pelatihan pengelolaan sampah ini dapat memperkuat peran masyarakat, terutama generasi muda dalam mengatasi permasalahan sampah.
“Dengan begini, kami jadi bisa menambah pengetahuan tentang pengelolaan sampah yang berkelanjutan, meningkatkan keterampilan dalam pengolahan sampah sambil meningkatkan kreativitas.” Yuyun (Pemuda Pulau Osi)


