Diskusi Kepulauan: Krisis Iklim di Pulau-Pulau Kecil

Kepulauan Maluku merupakan salah satu wilayah wilayah yang paling terdampak oleh dinamika perubahan iklim. Terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil dengan masyarakat yang hidup  di wilayah pesisir, kawasan ini memiliki kerentanan ekologi dan sosial yang tinggi. Dampak nyata seperti kenaikan muka air laut, abrasi pantai, penurunan hasil tangkapan ikan, serta perubahan pola cuaca ekstrem telah dirasakan oleh masyarakat, mengancam mata pencaharian, ketahanan pangan, dan keberlanjutan pengetahuan lokal. 

Menyikapi kondisi tersebut, diskusi bertajuk “Diskusi Kepulauan: Krisis Iklim di Pulau-Pulau Kecil,” digelar atas kolaborasi antara Yayasan Sasi Alam Indonesia (Yasi.ID) dan Center for Island Studies (CIS) UIN A.M. Sangadji Ambon untuk membahas krisis iklim yang terjadi di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Kepulauan Maluku. 

Diskusi digelar di Ruang Rapat Senat, Gedung Rektorat UIN A.M. Sangadji Ambon, dan dihadiri oleh 24 peserta yang terdiri dari akademisi dan perwakilan LSM. Tujuan dari diskusi ini adalah menjadi ruang perjumpaan lintas sektor antara akademisi dan praktisi LSM untuk bertukar pengetahuan serta pengalaman dalam menghadapi krisis iklim di kawasan kepulauan, selain itu juga untuk mengarusutamakan isu krisis iklim di pulau-pulau kecil di Maluku dalam lingkungan kampus. 

Kegiatan diskusi dibuka oleh Rektor UIN A.M. Sangadji Ambon, Dr. Abidin Wakano, M.Ag. Dalam sambutannya, beliau menekankan bagaimana krisis iklim di pulau-pulau kecil menjadi ancaman serius bagi masyarakat kecil. Beliau juga memperkenalkan konsep eko-teologi, yakni pendekatan yang menempatkan tanggung jawab pelestarian lingkungan sebagai bagian dari kesadaran spiritual dan tanggung jawab manusia sebagai makhluk Tuhan.

Sesi Pemaparan Narasumber

Diskusi berlangsung secara interaktif dan terbuka, menghadirkan tiga narasumber dengan pengalaman dan perspektif yang saling melengkapi.

Pembicara pertama, Hana Tirza C. Theorupun (Program Development Manager Yasi.ID), memaparkan hasil riset Yasi.ID di Negeri Hulaliu, Maluku Tengah, mengenai pelestarian pengetahuan lokal masyarakat adat sebagai strategi adaptasi iklim. Riset ini menyoroti pentingnya menjaga pengetahuan lokal sebagai bagian dari sistem resiliensi masyarakat dalam menghadapi krisis iklim yang semakin intens.

Pembicara kedua, O. Z. S. Tihurua, M.Si. (Ketua Center for Island Studies, UIN A.M. Sangadji Ambon), menyampaikan materi berjudul “Krisis Iklim, Mangrove, dan Traditional Ecological Knowledge: Model Pengelolaan Berkelanjutan yang Lebih dari Manusia.” Beliau menekankan bahwa penanganan krisis iklim perlu mengakui nilai-nilai ekologis tradisional yang telah diwariskan turun-temurun, seperti sistem pamali (tempat larangan) yang dipercaya dihuni roh leluhur dan secara ekologis berfungsi sebagai kawasan konservasi masyarakat adat.

Pembicara ketiga, Zulfirman Rahyantel (Ph.D Student di Cornell University dan Direktur Yasi.ID), membahas dinamika perubahan iklim di wilayah pesisir serta bagaimana relasi kuasa dalam kawasan konservasi sering kali melahirkan ketimpangan pengambilan keputusan. Ia mengkritisi pendekatan penelitian yang bersifat ekstraktif, serta mendorong model riset yang berdampak langsung dan melibatkan masyarakat sebagai subjek aktif, bukan hanya objek studi.

Sesi Diskusi dan Refleksi Bersama

Sesi diskusi menjadi ruang bagi peserta untuk memberikan tanggapan dan memperdalam pemaparan narasumber. Salah satu isu yang mencuat adalah pentingnya penguatan konteks lokal seperti pamali dan pemerintahan adat sebagai landasan keberlanjutan pengetahuan lokal. Beberapa peserta juga menyoroti ketimpangan akses data-dimana hasil penelitian seringkali tidak kembali ke masyarakat pemilik pengetahuan.

Diskusi ini diharapkan menjadi langkah awal terbentuknya jejaring kolaboratif antara kampus, LSM, dan komunitas lokal untuk memperkuat aksi-aksi iklim yang berkelanjutan. Selain membuka ruang refleksi bersama, kegiatan ini juga menegaskan pentingnya kehadiran lembaga pendidikan tinggi sebagai pusat riset dan penggerak perubahan yang berpihak pada keadilan ekologis, khususnya di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di Maluku.

Bagikan halaman ini:
Facebook
Twitter
LinkedIn
Tentang penulis:
yasi
yasi

Artikel terkait:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *