Pulau Osi, sebuah pulau kecil di Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, sejak lama dikenal sebagai sentra komoditas rumput laut. Pada 2021–2022, masyarakat menikmati masa keemasan ketika hasil panen mencapai puncak.
Namun, memasuki 2023, situasi berbalik. Rumput laut mengalami gagal panen akibat serangan penyakit bulu kucing dan ice-ice. Penyakit bulu kucing atau epifit ditandai dengan pertumbuhan bulu seperti lumut atau silt yang menempel pada thallus hingga menghambat pertumbuhan dan menyebabkan kebusukan. Sementara ice-ice membuat thallus memudar, bening, mengeras, dan mudah patah.
Sebagai sentra budidaya dan pemasok bibit bagi desa-desa di Seram Bagian Barat seperti Nuruwe, Pulau Buano, dll,. kegagalan di Pulau Osi juga berdampak luas. Meski para petani berulang kali mencoba menanam kembali, serangan penyakit yang terus berulang membuat banyak dari mereka kehilangan harapan dan memilih berhenti.
Setelah beberapa musim vakum, secercah harapan muncul melalui program “Membangun Ekonomi Biru untuk Memberdayakan Petani Rumput Laut di Pulau Osi” yang dijalankan Yayasan Kopernik bersama Yasi.ID. Melalui inisiatif bersama, petani kembali menata langkah. Selain mengusahakan kembali rumput laut, para petani juga melakukan serangkaian eksperimen untuk memperkuat ketahanan bibit rumput laut melalui percobaan kebun bibit, hingga menguji coba rumah pengering untuk memperoleh hasil pasca panen yang maksimal.
Meski tantangan masih dirasakan, mulai dari praktik penangkapan ikan merusak hingga dampak perubahan iklim yang makin terasa, semangat para petani untuk merajut asa merupakan tanda bahwa harapan belum padam. Harapan akan Pulau Osi untuk meneguhkan diri dalam pengembangan ekonomi biru yang berkelanjutan di Maluku melalui komoditas rumput laut.


