Ditengah arus deras modernitas, masyarakat adat menjadi pengingat penting akan keseimbangan antara manusia dan alam. Mereka mengembangkan pengetahuan ekologis yang diwariskan secara turun-temurun melalui praktik tradisional, ritual adat, dan tradisi lisan. Negeri Hulaliu, sebuah negeri adat di Pulau Haruku, Maluku Tengah, merupakan contoh nyata bagaimana pengetahuan lokal membentuk tata kelola sumber daya alam. Namun, masyarakatnya kini berada dalam posisi rentan akibat krisis iklim yang mengancam penghidupan mereka, khususnya di sektor pertanian dan perikanan. Menanggapi hal ini, Yayasan Sasi Alam Indonesia (Yasi.ID) berkolaborasi dengan Monash University Australia dalam riset mengenai pentingnya pelestarian pengetahuan lokal sebagai strategi adaptasi iklim. Riset ini menggunakan pendekatan co-design atau mendesain bersama di mana masyarakat lokal terlibat aktif dalam setiap tahapan riset: mulai dari eksplorasi hingga pengembangan solusi. Pendekatan ini juga menekankan pentingnya kedaulatan data adat (indigenous data sovereignty) sebagai bagian dari pengakuan dan perlindungan hak-hak masyarakat adat atas pengetahuan mereka.
Proses dan Temuan Awal
Penelitian fokus pada pelestarian pengetahuan lokal yang berhubungan dengan penghidupan masyarakat seperti pertanian dan perikanan, serta kebiasaan-kebiasaan lain dalam pengelolaan sumber daya alam. Penelitian dimulai pada Oktober 2024 dengan observasi awal tentang kondisi Negeri Hulaliu sebagai komunitas adat pesisir di Maluku.
Kunjungan lapangan kedua dilakukan pada November 2024 untuk menggali lebih dalam praktik ekologi masyarakat dalam mengelola alam serta respons mereka terhadap perubahan iklim. Wawancara dilakukan dengan berbagai tokoh kunci dan tokoh masyarakat yang beraktivitas dalam sektor penghidupan. Proses ini dilengkapi dengan diskusi kelompok terarah (FGD).
Hasil awal menunjukkan bahwa masyarakat Hulaliu merupakan masyarakat pesisir di Maluku yang sangat kuat dalam sektor pertanian. Hulaliu memproduksi tanaman pangan yang sangat melimpah seperti keladi, kasbi, patatas. Masyarakat Hulaliu melakukan praktik pertanian yang diturunkan oleh nenek moyang mereka, seperti pengetahuan soal waktu bertani, cara menanam dan panen yang unik, yang mana praktik tersebut berkontribusi pada produktivitas hasil panen yang melimpah. Selain itu terdapat pengetahuan lokal lainya seperti tanoar, patanow, dan masohi yang mendukung sektor penghidupan. Namun beberapa pengetahuan lokal ini mulai mengalami degradasi nilai. Contohnya masohi yaitu sistem gotong-royong di Hulaliu yang mana saat ini mengalami peralihan kebiasaan dari yang awalnya saling membantu dalam mengerjakan kebun, namun sekarang lebih banyak menggunakan sistem bayar, atau dalam istilah setempat disebut sewa. Hal ini disebabkan karena pengaruh kebutuhan ekonomi, sehingga banyak masyarakat mulai meninggalkan gotong royong.
Masyarakat juga telah merasakan dampak perubahan iklim terutama dalam pola tanam yang terganggu akibat cuaca tak menentu sehingga mereka harus menunda musim tanam. Selain itu dampak perubahan iklim yang lain juga telihat dari hasil panen yang kurang maksimal.
Kunjungan ketiga pada April 2025. Tim peneliti melakukan eksplorasi solusi pelestarian pengetahuan melalui lokakarya partisipatif bersama kelompok perempuan, laki-laki, dan pemuda. Pertemuan pertama fokus pada pemetaan kepemilikan dan aliran pengetahuan. Pertemuan kedua memetakan secara lebih rinci jenis pengetahuan lokal yang terancam punah serta metode pelestariannya.
Salah satu temuan yang menarik pada penelitian lapangan ketiga adalah adanya fenomena Hulaliu rantau. Komunitas Hulaliu yang merantau dikatakan cukup besar yang tersebar di berbagai wilayah seperti di Ambon, Papua, Jakarta, Belanda dan berbagai wilayah lainnya. Komunitas perantau Hulaliu terhubung melalui sosial media seperti Facebook, Instagram, TikTok. Selain sebagai wadah solidaritas yang menghubungkan orang Hulaliu sedunia, platform social media menjadi alat pelestarian pengetahuan lokal dan juga akses bagi orang Hulaliu di perantauan untuk mengenal kampung halaman. Inisiatif untuk mendokumentasikan pengetahuan lokal ini dilakukan oleh anak muda Hulaliu di perantauan sebagai bentuk kecintaan dan kebanggan mereka terhadap identitas mereka sebagai orang Hulaliu.
Pengetahuan Lokal sebagai Kekuatan
Pengetahuan lokal masyarakat Hulaliu adalah hasil relasi panjang dengan alam dan sesama yang telah membentuk cara hidup mereka secara ekologis dan spiritual. Pelestarian pengetahuan ini bukan hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga memperkuat ketahanan masyarakat pesisir dan adaptasi dalam menghadapi ancaman seperti perubahan iklim. Dokumentasi dan pelestarian pengetahuan lokal menjadi langkah penting dalam memperkuat identitas, kepemilikan pengetahuan, serta mengakui bahwa solusi perubahan iklim tidak selalu datang dari pengetahuan modern, tapi juga dari pengetahuan lokal yang diturunkan sejak lama.


